Komik Digital Garuda Riders yang Menuai Yen

Komik Digital Garuda Riders yang Menuai Yen.

Liputan majalah TEMPO Edisi 17 Februari 2013 tentang Komik Garuda yang menuai YEN. “dua lelaki terlihat sibuk memainkan tetikus. mata mereka memelototi gambar yang terpampang di layar komputer jinjing 14 inci. gambar itu adalah sketsa adegan pertempuran yang masih berbentuk garis-garis tanpa warna. baru kemudian warna merah, kuning, dan biru ditambahkan.”

https://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Riders

Satu milenium setelah Era Ramayana, ras asura dan keturunannya terus diburu. Mereka dibantai di mana-mana. Hanya di Alengka, negara leluhur para asura, mereka bisa hidup tenang. Namun, itu pun bukan jaminan. Sebab, sebuah organisasi bawah tanah bernama Raksasaghna telah lama bersumpah untuk melenyapkan seluruh keturunan Rahwana itu dari Tanah Varadwipa.

Pada masa itulah, lahir bayi laki-laki dari tiga keturunan Era Ramayana yaitu Rahwana (asura), Hanoman (wanara), dan Rama (mannusa). Bayi laki-laki itu bernama Naradja. Marsekal Badawang adalah orang pertama yang melihat potensi anak petani ubi itu. Ia pun berspekulasi untuk menarik Naradja menjadi salah satu pratarunanya di Akademi Angkatan Udara Kurmapati. Pilihannya tak salah, karena wanara itu kemudian memang tumbuh menjadi seorang penunggang garuda yang menonjol.

Namun, Naradja mengalami mimpi buruk tentang masa depan dirinya dan nasib Tanah Varadwipa. Hanya delapan elemen dewa atau Hasta brata yang mampu mencegah kehancuran Tanah Varadwipa di masa depan. Tanpa izin Akademi Angkatan Udara Republik Ayodhya, Naradja mengajak Laksmi, Lembu Kendil, Baning, dan Malore terbang ke berbagai negara mencari delapan elemen Hastabrata dengan menunggangi garuda. Tak jarang, nyawa mereka menjadi taruhannya. Namun betapapun menggetarkannya petualangan itu, Naradja tak pernah tahu bahwa ada skenario besar dari organisasi rahasia Raksasaghna terhadap dirinya.